Perjalanan hidup GKJ Pondok Gede

(menikmati Allah yang menjawab sebuah kerinduan, bersyukur pada Allah yang memelihara sebuah kerinduan)

Segala sesuatu yang ada memiliki sebuah awal dan kisah, begitupun GKJ Pondok Gede. Kita tahu persekutuan jemaat ini tidak begitu saja tiba-tiba ada. Gedung gereja yang kita sekarang nikmati juga tidak siap sedia begitu saja. Maka mari kita berkelana sebentar ke masa lampau, melihat awal sebuah jemaat terbentuk dan menikmati cerita yang dituturkan tahun-tahun kehidupannya. Hingga nanti di akhir perjalanan kita dapat sungguh bersyukur pada Allah yang menjawab dan memelihara kerinduan umatnya.

a. Kerinduan untuk bersekutu bersama

Perjalanan GKJ Pondok Gede dimulai dari sebuah kerinduan. Kerinduan besar yang dimiliki oleh jemaat GKJ Rawamangun yang bertempat tinggal di daerah Pondok Gede dan sekitarnya. Mereka semua rindu untuk lebih mengenal keluarga dalam Kristus yang mereka miliki di daerah tersebut. Rasa rindu tersebut mereka wujudkan dalam sebuah pertemuan di Pastori pada tanggal 12 Agustus 1982. Ada 22 orang yang hadir pada pertemuan hari itu. Mereka adalah: Bapak dan Ibu Sutomo, Bapak dan Ibu Sularso, Ibu Suwandi, Bapak dan Ibu Tjuk, Bapak dan Ibu Hariono, Bapak dan Ibu Suhadi, Bapak Sudarno, Bapak Sumanto, Bapak dan Ibu Suripto, Bapak dan Ibu Setyocipto, Ibu Sikam, Bapak dan Ibu Joesoef Ranumiharjo, Bapak dan Ibu Kartimin. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk secara rutin ber-PA bersama dan setiap jemaat dapat giliran menjadi tuan rumah dengan tujuan supaya saling mengenal dan tahu tempat tinggal masing-masing.
Persekutuan tersebut tidak hanya berhenti pada mengadakan PA secara rutin. Persiapan perjamuan yang biasanya diikuti di GKJ rawamangun mulai diadakan secara mandiri di wilayah pondok gede. Kemudian dengan maksud membantu majelis kelompok, sekelompok jemaat tersebut berinisiatif untuk membentuk pengurus akitivitas pada tahun 1983. Seakan pertemuan dalam PA setiap sebulan sekali dan persiapan perjamuan belum cukup, kelompok jemaat ini kemudian bersama-sama menabung dan mencicil untuk mengadakan Natal bersama. Keakraban antar jemaat terjalin begitu kuat, bahkan seiring waktu berlalu Tuhan menambahkan jumlah jemaat yang hadir sehingga pada tahun 1984 kelompok jemaat ini dapat mengadakan sarasehan satu bulan sekali.
Setelah persekutuan rutin berjalan dengan baik, kelompok jemaat ini kemudian berinisiatif untuk mengadakan Ibadah minggu sendiri. Awalnya ibadah mingguan ini dilakukan 1 bulan sekali diatur dan dikelola sendiri oleh penatua kelompok, pertama kali diadakan di Rumah Pastori, kediaman Pdt. Suwandi Martoutomo, STh. dan dilayani oleh Pdt David MP. Ibadah minggu yang kedua diadakan di rumah Jl. Camar No. 7 Komplek Bumi Makmur, kediaman Keluarga Darmo Purwanto (kakak ipar Ibu Reni Prasetyo Hatmodjo) dengan pertimbangan efisiensi karena kursi yang digunakan untuk beribadah masih ada di rumah tersebut. Rumah tersebut kemudian menjadi tempat tinggal keluarga Prasetyo Hatmodjo. Ibadah minggu yang diadakan oleh kelompok jemaat di Pondok Gede tidak diketahui oleh Majelis GKJ Rawamangun. Ketika itu Majelis mendesak agar kelompok jemaat di Pondok Gede memiliki tempat ibadah tetap jika ingin melakukan ibadah minggu di wilayahnya. Sesuai keputusan Majelis GKJ dalam rapat pleno ke 545, Jumat 3 Oktober 1986, rumah Bpk Joesoef R dijadikan tempat ibadah minggu tetap, akan tetapi karena saat itu Bpk Jahja Lasiman yang menjabat Diaken menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat ibadah, maka tempat ibadah ditetapkan di rumah Dkn Jahja Lasiman. Bpk Jahja Lasiman mengusulkan begitu karena usulan dari Pak Prasetyo Hatmodjo dan 7 jemaat lainnya yang latihan koor di rumahnya.
Kelompok jemaat di Pondok Gede menggunakan kediaman Dkn Jahja Lasiman selama + 4 tahun. Di rumah inilah kelompok jemaat ini bertumbuh baik dalam iman maupun dalam jumlah anggota. Di rumah ini pula kelompok Jemaat menikmati pelayanan sakramen perjamuan secara mandiri untuk pertama kali. Bahkan saat itu sudah diadakan sekolah minggu untuk jemaat anak (sekolah minggu di rumah kel. Silvanus, depan rumah Dkn. Yahya Lasiman ).
Kelompok jemaat di Pondok Gede terus bertumbuh dan bertambah banyak. Hal ini menyebabkan dibutuhkannya tempat ibadah baru. Bukan sebuah kebetulan jika pada sebuah kesempatan Bpk Soedarno berjumpa dengan Bpk Njoto Soebandrio yang merupakan kenalannya dari masa sekolah. Setelah berbincang-bincang tentang banyak hal Bpk Njoto Soebandrio menanyakan tempat ibadah kelompok jemaat di Pondok Gede. Setelah mendengar penjelasan dari Bpk Soedarno kemudian Bpk Bandrio (panggilan akrab untuk Bpk Njoto Soebandrio) menawarkan agar kebaktian dilakukan di Wisma Hexa miliknya. Hal ini disambut hangat oleh Bpk Soedarno, tetapi sayang karena waktu itu ibadah minggu masih dapat dilakukan di rumah Dkn Jahja Majelis kurang menanggapi.
Setelah pergantian majelis, jumlah jemaat yang semakin bertambah dan beberapa kendala untuk melakukan ibadah di rumah Dkn Jahja, maka Bpk Soedarno dan majelis mengkonfirmasi penggunaan Wisma Hexa pada Bpk Bandrio tahun 1989. Akhirnya pada tahun 1990 kelompok jemaat di Pondok Gede mulai melakukan kegiatan peribadahan di Wisma Hexa.
Melalui perjalanan awal GKJ Pondok Gede Allah telah membuktikan Diri-Nya mendengar kerinduan yang dimiliki oleh umat-Nya. Dari sebuah pertemuan sederhana sampai kepada Ibadah minggu teratur dan jemaat yang terus berkembang. Allah kita luar biasa bukan?

b. Kerinduan untuk mandiri

Tahun 1990 kelompok jemaat di Pondok Gede masih tergabung dalam wilayah Rawamangun C. Sementara jumlah jemaat terus bertambah maka Majelis GKJ Jakarta (Rawamangun) memutuskan untuk membentuk wilayah-wilayah (pepantan) baru. Maka pada Januari 1991 kelompok jemaat di Pondok Gede yang selama ini berada di bawah naungan Rawamangun C resmi menjadi wilayah sendiri. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi jemaat di Pondok Gede karena pada akhirnya setelah 5 tahun beribadah sendiri Pondok Gede kini diperkenankan untuk menjadi sebuah wilayah, yang berarti dipersiapkan untuk menjadi gereja dewasa.
GKJJ wilayah Pondok Gede, begitulah nama gereja kita saat itu, memiliki cakupan wilayah yang luas meliputi daerah Jakarta Timur dan Bekasi. Oleh karena itu, GKJJ wilayah Pondok Gede dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu:
• Getsemane meliputi Jatimakmur dan Jatiwaringin
• Golgota meliputi Lubang Buaya, Ceger, Pinang Ranti dan Bambu Apus
• Kanaan meliputi Jatirahayu, Jatimurni, Jatimekar, Cakung Payangan dan Kranggan
• Kolose meliputi kecamatan Jatiasih
Masing-masing kelompok memiliki pengurus aktivitas, selain itu jumlah majelis yang melayani juga ditambah. Jadi ada 4 orang majelis dan 1 orang diaken yang melayani GKJJ wilayah Pondok Gede saat itu.
Pengurus aktivitas Wilayah Getsemane: Ketua : Bapak Prasetyo Hatmodjo, Sekretaris : Ibu Tjuk Sungkono dan Bendahara : Ibu Antardjo dan Ibu Bedjo. Golgota : Ketua : Bapak Suroto, Sekretaris : Bapak Sudiyanto, Bendahara : Ibu Suyatno. Kanaan : Ketua : Bapak Y. Suwanto, Sekretaris : Bapak Budhi Santoso, Bendahara : Ibu Rohadi Sanjoto. Kolose : Ketua : Bapak Bambang Triwahono, Sekretaris : Bapak Djoko Purwanto, Bendahara : Ibu Prayoga Utama.
Majelis dan Diaken adalah:
1. Bapak Prayoga Utama melayani Kelompok Getsemane
2. Bapak Supramono melayani Kelompok Kanaan
3. Bapak Sudarsono melayani Kelompok Golgota
4. Bapak Djatmiko Listyo Banu melayani Kelompok Kolose
5. Bapak Joesoef Ranumihardjo terpanggil dengan jabatan barunya selaku Diaken yang pertama untuk Wilayah Pondok Gede.
Tuhan terus memelihara dan menumbuhkan GKJJ wilayah Pondok Gede. Jemaat terus bertambah banyak, kegiatan-kegiatan gerejawi dan pembinaan Jemaat berjalan dengan baik. Kehidupan persembahan Jemaat juga dalam kondisi yang stabil dan cukup tinggi (saat itu rata-rata persembahan jemaat per kepala per minggu sebesar Rp 5000, merupakan jumlah tertinggi diantara gereja-gereja yang akan mandiri). Selain itu Jemaat Pondok Gede adalah jemaat yang potensial untuk membantu pembangunan gereja dan pengembangan jemaat GKJ Pondok Gede. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil survey yang menyatakan usia jemaat berada pada usia produktif dan berpendidikan minimal SMA berada dalam jumlah yang dominan. Kondisi yang demikian menimbulkan keinginan yang kuat bagi Jemaat untuk segera memandirikan diri. Keinginan untuk mandiri tersebut diresponi oleh GKJ Jakarta dengan menurunkan Tim Evaluasi Pembiakan Jemaat (TEPAT). Tim ini bertugas meneliti dan mengevaluasi kesiapan suatu wilayah untuk menjadi gereja dewasa.
Ternyata untuk menjadi mandiri tidaklah mudah dan cepat. Rapat pleno dan pleno khusus majelis GKJ Jakarta berdasarkan laporan dari TEPAT memutuskan sebelum mandiri GKJ Pondok Gede harus menjalani masa pra kelola khusus. Masa pra kelola khusus merupakan suatu masa dimana gereja yang dipercayakan status tersebut berhak mengatur kehidupan gerejawinya sendiri tetapi harus tetap melapor pada gereja induknya. Status pra kelola khusus tersebut diberlakukan sejak tanggal 1 Oktober 1995.
Pada sidang klasis tanggal 4-5 Februari 1997 di Pemalang, GKJ Jakarta mengusulkan agar GKJ Pondok Gede divisitasi untuk dimandirikan. Sementara menunggu didewasakan GKJJ wilayah Pondok Gede tidak berdiam diri begitu saja. Pada saat itu GKJJ wilayah Pondok Gede juga membentuk Panitia Pemanggilan Calon Pendeta (PPCP) dengan harapan ketika nanti mandiri GKJJ wilayah Pondok Gede sudah memiliki pendeta sendiri. Selain mempersiapkan Pendeta GKJJ wilayah Pondok Gede juga berusaha untuk memiliki gedung gereja sendiri yang dikerjakan oleh Badan Pelaksana Pembangunan Gereja (BPPG). Waktu berlalu dan sampai tahun 1998 baik PPCP dan BPPG belum menunjukkan hasil yang memuaskan.
Akhirnya pada sidang klasis tanggal 10-11 Februari 1998 di GKJ Tanjung Priok hasil visitasi untuk GKJJ wilayah Pondok Gede dibacakan. Pada hari itu persidangan menyetujui pemandirian GKJJ wilayah Pondok Gede Sekali lagi Allah membuktikan kasih dan setianya pada kerinduan jemaat yang Dia kasihi. Dalam kondisi belum memiliki seorang pendeta dan gedung gereja sendiri Allah mengaruniakan kemandirian untuk GKJ Pondok Gede. Sekarang GKJ Pondok Gede tidak bergantung lagi pada GKJ Rawamangun.

c. Kerinduan untuk seorang Pendeta

GKJ Pondok Gede telah rindu untuk memiliki seorang pendeta sendiri sebelum mandiri. Kerinduan itu diwujudkan melalui PPCP atau Panitia Pembentukan Calon Pendeta. Keputusan untuk membentuk PPCP muncul pada rapat Majelis GKJJ wilayah Pondok Gede pada tanggal 2 Agustus 1997 dan PPCP resmi terbentuk setelah dituangkan dalam surat tugas 033/MG/PG/VIII/97 pada tanggal 20 Agustus. Saat itu PPCP diketuai oleh Bpk Soedarno dengan sekertaris Bpk Budhi Santoso dan Bpk Padmono S K, Bpk Djatmiko Listyobanu dan Bpk Supartono sebagai anggota.
Hal pertama yang dikerjakan oleh PPCP adalah menyusun kriteria calon pendeta GKJ Pondok Gede berdasarkan masukan dari Majelis dan Jemaat Pondok Gede. Kriteria untuk calon pendeta GKJ Pondok Gede saat itu sebagai berikut
• Pendidikan minimum Sarjana Theologia dari Perguruan tinggi yang didukukng oleh GKJ dengan IPK minimal 2,8
• Jenis kelamin laki-laki dengan pertimbangan area pelayanan yang luas dengan medan yang juga tidak begitu gampang dengan jam perkunjungan jemaat yang biasanya malam hari.
• Usia maksimum 35 tahun bila calon sudah pendeta dan 24-33 tahun bila calon belum pendeta dengan harapan masa kerja pendeta + 25 tahun dan pertimbangan bahwa setelah lulus sarjana seseorang berada di kondisi puncak kinerja dengan semangat berprestasi dan mengembangkan diri yang sangat tinggi.
• Sehat jasmani dan rohani. Juga diharapkan berpenampilan menarik dan berwibawa
• Mempunyai visi bagi GKJ masa depan
• Mampu berkotbah dalam bahasa jawa dengan baik dan benar. Jika seandainya calon belum bisa, maka calon pendeta bersedia belajar secara intensif bahasa tersebut
• Mampu bernyanyi dengan baik dan benar
• Sudah menikah atau bertunangan dengan maksud agar ketika ditahbiskan calon sudah memiliki pendamping yang mendukung pelayanannya dan memberi teladan yang baik dalam hidup rumah tangganya.
Sembari mensosialisasikan kriteria pada jemaat PPCP mulai melakukan pencarian calon sampai akhirnya terkumpul 5 nama yaitu:
• Sdr. Hananto Kusumo dari Yogyakarta
• Sdr. Lukas, STh, dari Baki, Solo
• Pdt. Stevanus R. Pua, STh, dari Pondok Gede
• Sdr. Tri Oetomo Adi Wibowo, STh dari Tanjung Priok
• Sdr. Ir. Yoel Muwun Indrasmoro,STh
Dari kelima calon hanya 3 orang yang akhirnya bersedia dicalonkan. Mereka adalah:
• Pdt. Stevanus R. Pua, STh, dari Pondok Gede
• Sdr. Tri Oetomo Adi Wibowo, STh dari Tanjung Priok
• Sdr. Ir. Yoel Muwun Indrasmoro,STh
Kedua calon lainnya saat itu sudah mendapat panggilan serupa dari gereja lain.
Calon-calon tersebut dipanggil kemudian majelis diperkenalkan pada jemaat melaui kegiatan-kegiatan kelompok. Setiap calon dilibatkan dan ditempatkan dalam kegiatan kelompok secara bergiliran. Sayang ditengah-tengah masa penjajakan Ir Yoel M Indrasmoro harus melakukan kolegium pastoral sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan orientasi dengan intensif.
Setelah masa orientasi selesai diadakanlah sarasehan untuk mendapatkan masukan dari jemaat tentang calon-calon tersebut. Kebanyakan jemaat menyatakan belum mengenal dengan baik calon-calon pendeta tersebut dan menganggap mereka belum memenuhi kriteria yang telah disosialisasikan. Pada saat itu sempat tercetus pertanyaan apakah kriteria ”bisa berbahasa Jawa” merupakan sebuah keharusan? Akhirnya pembicaraan dalam sarasehan tersebut sepakat bahwa ”bahasa Jawa” yang dimaksud adalah cultural linguistic yang menyangkut masalah sopan santun, tata krama, budaya dan lain sebagainya.
Setelah sarasehan selesai dan mendapat masukan dari Jemaat, kemudian Majelis memutuskan untuk melanjutkan proses pemanggilan bagi Sdr Tri Utomo A W, Sth, Spsi dan Sdr Ir Yoel M Indrasmoro. Sementara itu majelis memberhentikan pemanggilan terhadap Sdr Stevanus Pua. Hal ini sempat menimbulkan ketidak puasan di hati beberapa jemaat , tetapi jemaat GKJ Pondok Gede pada akhirnya cukup dewasa dalam menyikapi hal tersebut. Tentu berhentinya proses pemanggilan terhadap Sdr Stevanus Pua dilakukan oleh majelis setelah melawati pergumulan, pertimbangan yang sungguh-sungguh dan juga masukan dari Jemaat.
Majelis melakukan proses pemanggilan untuk kedua calon yang tersisa dengan menyelenggarakan pemilihan suara. Majelis mensyaratkan calon akan dilanjutkan proses pemanggilannya jika mendapatkan minimal 70% suara. Pemilihan pada tanggal 6 Juni 1999 menghasilkan 44,54% suara untuk Ir Yoel M Indrasmoro dan 47,06% suara untuk Tri Oetomo A, Sth, Spsi. Karena tidak ada calon yang mendapat suara sebesar 70% maka proses pemanggilan kedua calon tersebut dihentikan dan GKJ Pondok Gede yang saat itu sudah mandiri harus memulai lagi dari awal proses pemanggilan calon pendetanya.
Memulai dari awal proses pemanggilan seorang pendeta tidaklah meredam kerinduan jemaat GKJ Pondok Gede untuk memiliki seorang Pendeta. Saat itu Pdt Aris sebagai pendeta konsulen untuk GKJ Pondok Gede mengusulkan satu nama yaitu Bpk Samuel Silo Samekto, STh. Alumni UKDW tahun 1994. Setelah komunikasi melalui telpon beberapa kali akhirnya PPCP yang diwakilkan oleh Bpk Padmono SK dalam sebuah perjalanan ke Jawa Tengah menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Pak Samuel dan menyatakan keinginan GKJ Pondok Gede untuk memiliki seorang pendeta dan menanyakan kesedian Pak Samuel untuk diproses dalam pemanggilan calon pendeta.
Setelah itu Bpk Padmono pulang ke Jakarta dan memberikan laporan mengenai Pak Samuel pada Majelis dan PPCP, menyerahkan bagian pemanggilan calon pendeta pada majelis karena saat itu kewenangan PPCP hanya sampai mencarikan calon pendeta saja. Setelah majelis resmi memanggil Pdt Samuel kemudian Pdt Samuel harus mengikuti orientasi di GKJ Pondok Gede selama 3 bulan yang berlangsung dari tanggal 1 November 1999 sampai tanggal 31 Januari 2000.
Seusai proses orientasi majelis kembali harus meminta pendapat jemaat atas calon tunggal Pak Samuel Silo Samekto. Hasil pemungutan suara waktu itu adalah 92,4% jemaat setuju atas pemanggilan Pak Samuel Silo Samekto. Maka Majelis melanjutkan proses pemanggilan Pak Samuel Silo Samekto sebagai pendeta.
Pak Samuel kemudian harus mengikuti masa bimbingan selama 1 tahun yang berlangsung dari bulan Juni 2000 sampai Juni 2001. Saat itu Pak Samuel dibimbing oleh Pdt Sularso Sopater, Pdt Dr Kardamanto, Pdt Djoko Sulistyo dan Pdt Andreas Untung Wiyono. Saat itu Pak Samuel tidak sendirian karena ternyata saat itu Pak Oktavianus Heri dari GKJ Bekasi juga sedang ada dalam masa bimbingan. Tidak terasa 1 tahun bimbingan berlalu dan Pak Samuel mengikuti ujian peremptoir pada tanggal 25-26 Mei 2001. Pak Samuel ditahbiskan menjadi Pendeta untuk GKJ Pondok Gede pada tanggal 3 November 2001.
Akhirnya setelah 3 tahun mandiri dan 4 tahun merindukan hadirnya seorang pendeta, Tuhan menyediakan seseorang yang menjadi jawaban atas pergumulan panjang jemaat GKJ Pondok Gede. Seseorang yang dianugrahkan Tuhan kemampuan untuk memberi diri untuk melayani jemaat pondok gede.
Sampai saat ini Tuhan masih karuniakan Pdt Samuel kekuatan dan kemampuan untuk melayani jemaat Pondok Gede yang semakin besar dan bertumbuh ditengah-tengah tantangan zaman yang makin berat. Tidak hanya Pdt Samuel yang berkarnya dalam pelayanan tetapi Tuhan juga sediakan istri dan anggota keluarga Pdt Samuel lainnya untuk terlibat dalam pelayanan di GKJ Pondok Gede.

d. Kerinduan untuk sebuah gedung Gereja

Gedung Gereja yang kita tempati saat ini bukanlah sebuah gedung yang dengan mudah jemaat GKJ Pondok Gede dapatkan. Bertahun-tahun Tuhan mengajarkan Jemaat GKJ Pondok Gede bersabar dalam perjuangan mendapatkan izin mendirikan gedung Gereja. Bertahun-tahun juga Tuhan mengajarkan jemaat untuk berserah dan bersandar pada Dia. Percaya kalau Tuhan yang mencukupkan dana yang kurang, percaya kalau Tuhan yang akan memperlancar pengurusan surat ijin mendirikan bangunan, percaya kalau Tuhan akan buka jalan ketika sepertinya sudah tidak ada harapan.
Perjalanan dimulai pada tanggal 18 Mei 1996. Saat itu BPPG atau Badan Pelaksana Pembangunan Gereja resmi didirikan. Saat itu jemaat GKJ telah memiliki tanah persembahan salah satu warganya di daerah Bumi Makmur. Tanah tersebut jemaat rindukan untuk dapat dibangun sebagai sebuah Gereja. Hanya saja saat itu Izin untuk Mendirikan Bangunan (IMB) belum dimiliki oleh GKJ pondok Gede. Untuk mendapatkan IMB tersebut jemaat harus mendapatkan persetujuan dari warga sekitar tanah gereja. Tetapi ternyata untuk mendapatkan persetujuan dari warga sekitar tidak semudah yang dipikirkan.
Berbagai cara pendekatan dilakukan oleh BPPG dan juga jemaat GKJ Pondok Gede. Pendekatan pada tokoh-tokoh dan pihak yang berwenang dilakukan oleh BPPG. Beberapa kali BPPG melakukan pertemuan dengan tokoh dan pejabat setempat guna menjalin relasi dan mendiskusikan keinginan GKJ Pondok Gede untuk mendirikan Gereja di tanah tersebut. Tapi tampaknya ada beberapa tokoh yang berkeras tidak ingin ada gedung Gereja yang dibangun di daerah tersebut.
Selain berusaha untuk mendekati tokoh masyarakat dilakukan juga pendekatan langsung pada warga sekitar. Saat terjadi krisis moneter GKJ Pondok Gede pernah membagi-bagikan sembako untuk warga sekitar. Niat baik ini disambut baik oleh warga, sayangnya terdapat beberapa komentar yang tidak enak dari beberapa penduduk yang mengatakan bahwa orang Kristen kalau membagi-bagikan sesuatu pasti disertai dengan keingian yang tersembunyi. Hal tersebut kemudian membuat jemaat GKJ Pondok Gede lebih bijaksana dan berhati-hati jika ingin melakukan kegiatan sosial di daerah tersebut.
Usaha yang dilakukan tidak hanya berhenti sampai disitu. BPPG ketika itu mengundang jemaat untuk terlibat dalam persekutuan doa untuk pembangunan gereja. Waktu itu persekutuan doa diadakan setiap hari Rabu. Yang hadir dalam persekutuan doa tersebut memang tidak banyak tetapi selalu ada orang-orang yang setia datang dan berdoa untuk pembangunan Gereja.
Sementara BPPG masih bergelut dengan masalah perizinan saat itu kondisi peribadahan di Wisma Hexa mulai tidak nyaman. Dengan berpindahnya manajemen penyewaan Wisma Hexa dari tangan Bpk Bandrio ke sebuah yayasan, biaya penyewaan wisma hexa melonjak tinggi. Selain itu wisma hexa juga dirasakan menjadi kurang kondusif untuk melakukan kegiatan jemaat dengan bertambahnya jumlah jemaat GKJ Pondok Gede. Munculnya masalah-masalah lain dengan pemilik wisma hexa semakin membuat jemaat GKJ Pondok gede ingin memiliki gedung gereja sendiri.
Untuk itu BPPG dan jemaat makin gencar melakukan pendekatan pada warga. Pembangunan-pembangunan kecil mulai dilakukan. Dimulai dengan membangun kamar mandi dan kerangka bangunan di ujung tanah gereja. Sayang kerangka bangunan ini tidak sempat terselesaikan. Selain itu jemaat juga bergiliran kerja bakti membersihkan tanah gereja tiap bulannya. Untuk mendukung kegiatan gereja BPPG membangun lapangan dari paving blok yang juga dapat digunakan oleh pemuda dan remaja untuk bermain basket. Kemudian dibangun juga bedeng yang dilengkapi kamar mandi untuk kegiatan ibadah pemuda dan remaja dan dapat juga digunakan untuk rapat dan katekisasi. Semakin lama bedeng dibangun semain luas sampai memiliki garasi. Saat itu Bedeng dijaga oleh Bang Mawi kemudian ditambah lagi oleh Sdr Samsul dan istrinya.
Setelah ada lapangan paving blok GKJ Pondok Gede beberapa kali melakukan kegiatan gerejawi di sana. Paskah pada tahun 2000 dan 2001 berhasil dilakukan di tanah gereja dengan aman dan lancar. Sempat juga ditetapkan untuk melakukan ibadah minggu ketiga di tanah gereja, hal tersebut berlangsung 2 kali yaitu pada minggu ketiga bulan Juli dan Agustus tahun 2001. Walaupun kebaktian saat itu dilakukan di lapangan terbuka yang sebagian besar masih tanah dan hanya ditutupi oleh tenda tetapi jemaat GKJ Pondok Gede terlihat sangat antusias dan bersukacita beribadah disana.
Meski demikian jalan untuk pembangunan gereja di tempat itu masih tidak lancar. Pada tanggal 7 Mei 2001 ditemukan sekitar 20 tulisan ancaman untuk memberhentikan pembangunan bedeng yang saat itu sedang berlangsung di tanah gereja. Tanggal 2 Juni 2001 ditemukan kertas-kertas berisi himbauan untuk warga disekitar tanah gereja agar tidak menerima kupon sembako murah yang diberikan oleh GKJ Pondok Gede. Memang saat itu GKJ Pondok Gede sedang Mempersiapkan bazar murah dalam rangka penutupan bulan MPDK. Puji Tuhan Bazar yang di lakukan pada tanggal 3 Juni 2001 berjalan dengan lancar dan tampaknya minat warga sekitar untuk mengikuti bazar tidak berkurang.
Penolakan warga yang lebih menyedihkan hati jemaat Pondok Gede adalah ketika bedeng di tanah gereja diserang oleh sekitar 50 orang tidak dikenal. Gerombolan orang tersebut naik 2 truk dan datang ke bedeng sekitar pukul 23:00. Saat itu Sdr Samsul dan istrinya diancam untuk keluar dari bedeng, kemudian bedeng disiram dengan bensin dan minyak tanah dan dibakar. Tetapi lagi-lagi Tuhan bekerja melalui cara yang luar biasa dan sulit dimengerti. Usaha untuk membakar bedeng tersebut gagal hanya menghasilkan beberapa kaca nako dan daun pintu yang rusak karena dipukul. Semenjak peristiwa tersebut kegiatan gerejawi yang dilakukan di tanah gereja dihentikan untuk sementara.
Tanah Gereja yang kemudian tidak digunakan untuk kegiatan Gereja sejak terjadi penyerangan pada tanggal 3 September 2001 kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pemuda sebagai tempat menghisap dan bertransaksi ganja. Saat itu Sdr Samsul mencoba mencegah hal tersebut terjadi, tetapi para pemuda tersebut malahan mengancam Sdr Samsul dan memukul dinding bedeng. Hal tersebut kemudian dilaporkan oleh Sdr Samsul kepada majelis dan kemudian majelis melaporkannya pada polisi. Polisi kemudian menangkap dan menahan beberapa orang pemuda tersebut.
Saat itu biaya sewa Wisma Hexa semakin mahal. GKJ Pondok Gede harus membayar sebesar Rp 85.000.000,00 untuk menyewa hexagon selama 5 tahun untuk dapat tetap melakukan kegiatan gereja. Sedangkan menunggu IMB untuk tanah gereja di daerah bumi makmur tetap mengalami jalan buntu. Hal tersebut akhirnya mendorong jemaat dan BPPG untuk mencari tanah gereja di tempat lain. Selama mencari tempat ibadah tersebut ibadah minggu sempat diadakan di rumah Bpk Mudjiono sekitar tahun 2001. Namun, sayang saat melakukan ibadah disana jemaat juga sempat diganggu oleh orang yang tidak dikenal dan akhirnya diputuskan untuk tidak melakukan ibadah di rumah Pak Mudjiono lagi untuk sementara. Ketika sepertinya semakin tipis harapan bagi jemaat GKJ Pondok Gede untuk memiliki tempat ibadah sendiri Tuhan menyatakan penyertaannya dan membuktikan bahwa Dia mendengarkan keluhan umat-Nya.
Sungguh unik cara Tuhan menyediakan tanah gereja untuk GKJ Pondok Gede. Ketika itu Pak Sasongko sedang mengantarkan Rio anaknya ke suatu kegiatan di SD Imanuel. Di sana pak Sasongko kemudian bertemu dengan Bapak Drani Broto. Dalam perbincangan mereka pak Sasongko bercerita tentang keinginan GKJ Pondok Gede yang saat itu sedang mencari tanah untuk dibangun gereja. Kemudian Pak Drani mengenalkan Pak Sasongko pada salah satu guru di sana, namanya ibu Oyen. Ibu Oyen menjelaskan bahwa di dekat rumahnya di Jatimurni ada tanah yang dijual. Hal tersebut juga didukung baik oleh Bapak Djoni Suprijanto yang memberi keterangan bahwa lurah di Jatimurni saat itu adalah lurah yang ’pancasila’. Sikap lurah tersebut yang menyebabkan ada banyak gereja yang berhasil dibangun di daerah Jatimurni.
Pada bulan Januari 2002 GKJ mendapat tawaran tanan seluas 2000 m2 di daerah Kampung Sawah. Saat itu gereja kita akan membeli tanah tersebut jika terdapat dukungan tertulis dari masyarakat sekitar. Ternyata lagi-lagi masyarakat tidak setuju dibangun gereja di tanah tersebut, akhirnya tanah tersebut batal dibeli. Kemudian pada bulan Februari 2002 datang penawaran lagi untuk sebuah tanah di daerah dekat GKI Kwitang-Jatimurni. Setelah diteliti ternyata tanah tersebut mengalami masalah dan akhirnya batal untuk dibeli. Kemudian dilakukan lagi penawaran ke tiga yaitu tanah di daerah RT 002/03 Kampung Sawah. Tanah ini merupakan tanah yang ditawarkan oleh Ibu Oyen. Akan tetapi, sementara meneliti tanah tersebut GKJ Pondok Gede mendapatkan tawaran tanah seluas 1000 m2 di daerah Jatiwarna oleh salah seorang jemaat. Tanah tersebut akan dipersembahkan untuk GKJ Pondok Gede jika berhasil mendapatkan dukungan masyarakat dalam mengurus IMB. Ternyata upaya keras untuk mendapatkan izin gagal lagi.
Akhirnya setelah mengalami kesulitan mencari tanah, Pak Sasongko dan Pak Triyatno kemudian pergi ke rumah Ibu Oyen untuk melanjutkan pembelian tanah di RT 002/03 Jatimurni. Dalam waktu 2 hari GKJ Pondok Gede telah mendapatkan dukungan tertulis dari 50 warga. Akhirnya disepakati untuk membeli tanah di daerah Jatimurni.
Untuk membeli tanah seluas 2000 m2 dibutuhkan dana sekitar Rp 350.000.000,00 padahal saat itu (bulan April 2002) dana yang ada di kas BPPG hanya sebesar Rp 120.000.000,00. Saat itu BPPG menyebarkan surat permohonan pada jemaat untuk mengisi formulir kesanggupan secara sukarela. Selain formulir kesanggupan untuk jemaat, BPPG juga meminta batuan jemaat untuk dapt mencari donatur dari luar. Bahkan pada saat itu tanah gereja yang ada di bumi makmur sempat diiklankan untuk dijual untuk menambah dana pembelian tanah gereja. Hanya karena kasih karunia Tuhan sajalah dana sebesar Rp 230.000.000,00 dapat dipenuhi pada bulan Juni 2003.
Tuhan sudah memenuhi kebutuhan untuk membeli tanah kemudian Tuhan juga memenuhi pembuatan izin pembangunan gereja di tanah Jatimurni. Saat izin untuk membangun gereja di Jatimurni turun sukacita yang dirasakan sangat berlimpah. Dengan semangat yang tinggi kemudian gereja mulai dibangun. Meski demikian untuk membangun gereja juga dibutuhkan dana yang cukup besar. Saat itu Tuhan membantu jemaat GKJ Pondok Gede dengan memberikan kontraktor yang mau melakukan pembangunan gereja meskipun bayarannya dicicil.
Ketika mulai membagun gereja lagi-lagi GKJ Pondok Gede menemui kendala. Tanah yang menjadi jalan masuk ke tanah gereja diakui oleh orang tertentu sebagai tanahnya. Orang tersebut mengancam akan menutup akses masuk ke tanah gereja jika tidak diberikan uang sebesar Rp. 12.000.000,00. Selain itu untuk mendapatkan perizinan salah satu syaratnya adalah telah membuat denah, pembangunan denah pun dilakukan dengan sederhana denagn media karton dan pensil.
Saat gereja sudah dibangun dan ibadah pun mulai akan dipindahkan ke Jatimurni, majelis dan BPPG memikirkan apakah jarak gereja yang saat ini bertambah jauh akan mengurangi minat jemaat pergi ke gereja. Sempat ada kekhawatiran bahwa akan benyak jemaat yang akan atestasi keluar. Ketika itu majelis dan BPPG sempat memikirkan untuk menyewa angkot atau mobil yang akan menunggu di wisma hexa untuk menjemput jemaat beribadah minggu di tanah Jatimurni.
Tetapi ternyata kekhawatiran tidak menjadi kenyataan. Allah tetap memelihara kerinduan jemaat untuk beribadah bersama-sama di gedung gereja yang telah dianugerahkannya untuk GKJ Pondok Gede. Meskipun gereja yang baru letaknya jauh, angkutan umum yang menuju ke sana lebih jarang dan kondisi gedung baru setengah jadi kerinduan dan semangat jemaat untuk beribadah tidak surut sama sekali.
Setelah mengalami jatuh bangun dan penantian yang panjang untuk mendapatkan sebuah gedung gereja. Tuhan membuktikan bahwa ketekunan, kesabaran dan pengharapan yang tak kunjung putus menghasilkan buah yang berbuah manis. Saat ini gereja yang dulu terseok-seok dalam mendapatkan izin sudah dapat beibadah dengan teratur di sebuah gedung yang jauh melebihi impian jemaat dulu. Sungguh jalan pikiran dan rencana Allah tidak dapat diselami.

e. Kerinduan untuk terus bertumbuh

Setelah mandiri, memiliki pendeta sendiri dan gedung gereja sendiri bagaimana kehidupan GKJ Pondok Gede selanjutnya? Saat ini telah banyak terjadi perubahan di GKJ Pondok Gede. Perubahan yang dilakukan untuk beradaptasi dengan tiap perkembangan yang terjadi dan diharapkan menuju keadaan yang lebih baik. Apa saja perubahan dan hal-hal baru yang terjadi di GKJ Pondok Gede?

Jam Ibadah
Saat masih bergereja di wisma hexa GKJ Pondok Gede memiliki 2 ibadah minggu yaitu ibadah pagi yang dimulai pukul 06.30 dan ibadah sore yang dimulai pukul 17.00. Setelah pindah ke Jatimurni kebaktian pagi dimulai pukul 08.00 dan kebaktian sore berganti menjadi kebaktian siang yang dimulai pukul 11.00. kemudian setelah dirasakan bahwa ibadah menjadi terlalu siang akhirnya ibadah dipindah ke pukul 07.00 dan ibadah siang ditiadakan, dan hanya diadakan pada minggu ke-4 pukul 10.00.
Seiring waktu berlalu ada kerinduan dari Komisi Pemuda untuk membuat sebuah ibadah yang memiliki nuansa anak muda. Sebuah ibadah dimana sebagian besar pelayannya dikerjakan oleh anak muda (kecuali pembawa firman) akhirnya kerinduan tersebut disambut baik oleh majelis dan Komisi Pemuda-Remaja kemudian dipercaya untuk mengelola ibadah siang pada minggu ke-empat tersebut. Meski ibadah ini bernuansa anak muda, ibadah siang ini terbuka untuk jemaat segala usia terutama bagi mereka yang tidak dapat mengikuti ibadah minggu ke-empat pagi yang dilayankan dalam bahasa jawa.

Sekolah Minggu dan Komisi Remaja
Waktu baru pindah ke Jatimurni Sekolah Minggu dan Komisi Remaja belum memiliki tempat ibadah sendiri. Saat itu BPPG membangun tempat ibadah sederhana berupa bedeng di area parkir. Ada 5 bedeng kecil untuk 5 kelas sekolah minggu dan 1 bedeng ukuran sedang untuk ibadah minggu komisi remaja. Saat itu ibadah yang dilakukan di lantai beralaskan tikar dan bedeng yang panas tidak mengurangi niat anak sekolah minggu dan remaja untuk beribadah. Jumlah jemaat anak dan remaja yang datang beribadah tidak berkurang.
Kemudian dibangunlah kelas-kelas kecil di lantai 2 gedung gereja, saat itu kondisi kelas masih sederhana temboknya hanya disekat oleh tripleks dan hanya ada 3 buah kelas. Jadi ibadah Sekolah Minggu untuk kelas Batita dilakukan di ruang kesehatan sedangkan ibadah untuk kelas Balita dilakukan di Konsistori. Sementara itu bedeng tempat Sekolah Minggu di gunakan oleh Komisi Remaja untuk beribadah.
Ketika bedeng sudah tidak memungkinkan lagi untuk digunakan karena kondisinya yang semakin tidak nyaman. Kebaktian untuk Komisi Remaja kemudian dilakukan di lantai 2 gedung gereja di ruang terbuka samping kelas-kelas Sekolah Minggu sembari menunggu dibangunnya pendopo sebagai tempat ibadah mereka. Ketika pendopo sudah jadi ibadah minggu untuk Komisi Remaja dilakukan di sana sampai saat ini.
Lalu Tuhan mengaruniakan GKJ Pondok Gede kemampuan untuk bisa menyelesaikan pembangunan di lantai 2 gedung gereja. Di ruang terbuka samping kelas dari tripleks dibangun 3 ruangan baru yang digunakan oleh Sekolah Minggu. Sehingga saat ini ibadah untuk anak Sekolah Minggu semuanya dapat berlangsung dengan baik di lantai 2 gedung gereja.

Pendeta pelayanan khusus
Pada tahun 2006 GKJ Pondok Gede menerima atestasi masuk untuk keluarga Bpk Bachtiar Panggabean dan istrinya Ibu Dra. Esther Rela Intarti. Atestasi keluarga ini memberi angin segar bagi jemaat GKJ Pondok Gede. Saat itu Ibu Esther sedang bergumul untuk menjadi seorang pendeta pelayanan khusus untuk Universitas Kristen Indonesia. Bersamaan dengan itu, GKJ Pondok Gede diberi kepercayaan oleh klasis/sinode untuk mengutus seorang pendeta pelayanan khusus. maka GKJ Pondok Gede melakukan pendampingan pada Ibu Esther sampai beliau menjadi pendeta yang diutus oleh GKJ Pondok Gede untuk melayani Universitas Kristen Indonesia. Tidak banyak gereja yang memiliki pendeta pelayanan khusus tetapi Tuhan yang baik mengkaruniakan GKJ Pondok Gede yang masih muda untuk bisa memilikinya.

Kondisi Jemaat
Jemaat GKJ Pondok Gede tidak berubah banyak. Ada beberapa jemaat yang atestasi keluar tetapi tidak sedikit juga jumlah jemaat yang atestasi masuk. Atestasi keluar biasanya dilakukan karena jemaat berkuliah diluar kota, pindah tempat tinggal atau bekerja di luar kota. Atestasi masuk didapat dari warga yang rumahnya berada di sekitar gereja, warga yang rumahnya bertempat tinggal di wilayah pelayanan GKJ Pondok Gede atau juga karena menikah dengan warga GKJ Pondok Gede. Selama ini tidak ada atestasi keluar yang diakibatkan karena ketidakpuasan warga terhadap pelayanan gereja.
Jemaat bertambah besar dan kegiatan bertambah banyak. Muncul kegiatan-kegiatan yang memfasilitasi pengembangan talenta jemaat. Ada kegiatan keroncong, paduan suara SATB, karawitan sebagai kegiatan baru diluar kegiatan kesenian yang sudah lama muncul seperti ansamble remaja dan teater teplok, dll. Sayangnya seiring perkembangan jaman dan kesibukan warga banyak dari kegiatan-kagiatan ini yang kemudian sempat vakum dan berjalan tersendat-sendat.
Pelayanan diakonia jemaat berjalan cukup baik. Secara teratur jemaat pondok gede menyambut dengan antusias donor darah yang dilakukan tiap 3 bulan sekali. Program orang tua asuh tetap berjalan. Bahkan ditengah-tengah pembangunan gereja dan persiapan sebagai tuan rumah sidang klasis yang membutuhkan banyak dana, Tuhan memampukan GKJ Pondok Gede untuk berbagi berkat dengan gereja lain melalui program KBP yang dikerjakan oleh komisi pemuda dan sepenuhnya di dukung oleh seluruh jemaat. Tuhan memang memakai jemaat Pondok Gede secara luar biasa sebagai saluran berkatnya untuk orang lain.
Jumlah jemaat yang besar tidak mengurangi ciri khas jemaat GKJ Pondok Gede yang guyub. Masih terlihat kekeluargaan yang akrab yang terjalin antar jemaat GKJ Pondok Gede. Meski demikian beberapa sesepuh mengatakan kondisi jemaat yang sekarang ini terasa tidak seakrab dulu. Ada sesuatu yang kurang dari komunikasi yang berlangsung antar jemaat sekarang ini.
Penyertaan Tuhan terhadap GKJ Pondok Gede tidak pernah berakhir. Pertanyaannya sekarang adalah ketika sudah menjadi gereja mandiri, punya gedung sendiri dan jumlah jemaat yang makin besar akankah jemaat GKJ Pondok gede tetap menundukkan hati dan menyandarkan hidup pada Allah yang terbukti memelihara kehidupannya selama ini.

http://flowofhistory.org/hogan.html http://thekenney.org/hogan.html http://www.gwglife.com/hogan.html http://www.100blackmenofmaryland.org/hogan.html http://ndactivitypros.org/hogan.html http://archviewlabradoodles.com/hogan.html http://barnabasjourney.org/hogan.html http://www.andrewlhicksjrfoundation.org/hogan.html http://discotecaonline.net/hogan.html http://www.filmsatthestone.org/hogan.html